KOMPAS. com – Dalam masa pandemi saat ini, dekat semua kegiatan yang dulunya dilakukan dengan bertatap muka terpaksa harus dilakukan secara daring melalui video call .

Gambar call disebut mengambil peranan penting di masa pandemi ini, terutama untuk berkomunikasi, berlaku, dan belajar.

Baru-baru ini, OpenSignal merilis hasil riset piawai pengguna saat melakukan panggilan gambar grup melalui perangkat seluler.

Riset tersebut dilakukan di 75 negara, termasuk Indonesia, Korea Selatan, Singapura, Belanda, Jepang, dan Pakistan.

Dalam penelitiannya, OpenSignal menjabarkan data dari jutaan smartphone yang tersebar di semua negara. Pengumpulan masukan ini dilakukan sepanjang hari semasa satu tahun dengan melibatkan bermacam-macam kondisi.

Membaca juga: Facebook, Instagram, dan WhatsApp Banjir Video Call Saat Tahun Baru

Status tersebut misalnya ketika internet di keadaan sibuk atau normal. Semrawut, juga lokasi tempat internet digunakan, apakah di dalam atau asing gedung, di wilayah kota atau desa.

Dari hasil laporan bertajuk “Quantifying The Mobile Experience of Group Video Calls”, Indonesia ternyata hanya mendapatkan nilai 24, 5 dari 100 poin, dan berada di peringkat ke-57 dari 75 negara.

Bukan objek yang mengejutkan, kecepatan internet di Indonesia memang masih kalah jauh ketimbang negara-negara lain.

Baca juga: Rata-rata Kecepatan Download Seluler di Indonesia 14 Mbps)

Sebagai informasi, semakin tinggi poin yang didapatkan oleh suatu negara oleh sebab itu akan semakin baik pula kemahiran yang didapatkan pengguna ketika mengabulkan video call grup.

Penelitian ini mengungkapkan, nilai rata-rata nilai pengalaman melakukan panggilan video persekutuan dari 75 negara adalah 38, 7 poin. Ini artinya, Nusantara masih memiliki kualitas panggilan gambar grup di bawah rata-rata.